Sejarah Perjuangan

Perang Paderi & Tuanku Nan Renceh

Abad XVIII – 1833 M — Bukik Kamang, Luhak Agam, Minangkabau

Biodata Singkat Tuanku Nan Renceh

Nama:Tuanku Nan Renceh
Nama kecil:Abdullah
Tempat / tahun lahir:Bansa, Nagari Bukik Kamang / Diperkirakan tahun 1780 M.
Tempat / tahun wafat:Bansa, Nagari Bukik Kamang / Diperkirakan tahun 1832 M.
Ayah:Tara Datuak Mangkudun, dari suku (klen) pisang, Bansa.
Ibu:Aji Rahmah suku (klen) koto, Datuak Sipado, Bansa.
Pendidikan:

Pendidikan Formal: tidak ada.

Pendidikan Informal: diperoleh dari keluarga di Kamang.

Pendidikan Non Formal (di dalam masyarakat):

  1. Pendidikan non formal (agama Islam) di masa kecil Tuanku Nan Renceh adalah belajar mengaji dan silat di surau Mejan dengan gurunya bergelar Tuanku Samiak di Bansa.
  2. Pendidikan non formal (agama Islam) di masa remaja, Tuanku Nan Renceh belajar ke surau Tuanku Nan Tuo di Cangkiang, Ampek Angkek, Luhak Agam.
  3. Sejak tahun 1799 Tuanku Nan Renceh sudah aktif berdakwah bersama sahabatnya, Fakih Saghir yang merupakan anak dari Tuanku Nan Tuo.
  4. Pendidikan non formal (agama Islam) Tuanku Nan Renceh ditambah dengan belajar kepada Haji Miskin yang berangkat ke Bukik Kamang setelah diburu di kampung kelahirannya sejak 1805.

Peristiwa Penting Seputar Paderi

Rangkaian peristiwa dari masa kejayaan perdagangan kopi hingga runtuhnya perlawanan Paderi di Minangkabau.

Abad XVIII
Kopi menjadi primadona ekspor banyak terdapat di Kamang dan wilayah darek. Sehingga pertanian, dan perdagangan makin maju. Namun diganggu oleh munculnya para penyamun-perampok dan kekuatan adat yang meminta pajak.
1803
Tiga orang haji asal Minangkabau pulang dari Mekkah, yakni Haji Miskin dari Pandai Sikek Luhak Agam. Haji Muhammad Arief dari Sumanik, Luhak Tanah Datar. Haji Abdurrahman dari Piobang, Luhak Lima Puluh Kota.
1804
Di Kamang mulai dikembangkan pendidikan bagi pengikut Paderi.
1805–1811
Haji Miskin berangkat ke Bukik Kamang dan menjadi guru agama di sana.
1816
Pasukan Paderi dan pasukan Belanda untuk pertama kalinya berperang.
1820-an
Tuanku Nan Renceh sudah menjadi salah seorang komandan perang Kaum Paderi yang kuat.
21 Feb 1821
Kelompok adat secara resmi menyerahkan wilayah darek kepada Kompeni. Melalui sebuah perjanjian di Padang antara Belanda dengan Keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Muningsyah.
Feb 1823
A.T. Raff kembali meminta bantuan ke Batavia. Dari Batavia dikirimlah persenjataan dan tentara Belanda, untuk membantu usaha penguasaan Minangkabau.
17 Apr 1823
Belanda mampu dikalahkan.
15 Mei 1825
Belanda dan Paderi menyepakati perjanjian damai.
15 Nov 1825
Kolonel de Stuers mencari jalan damai untuk menyelamatkan kekuasaan Belanda di Minangkabau. Sementara saat itu di Jawa sedang bergolak perlawanan Pangeran Diponegoro.
Jun 1830
Kelompok Paderi dari Bukik Kamang berhasil memutuskan jaringan komunikasi antara benteng Belanda di Tanjung Alam dan Bukittinggi.
1831
Letnan Kolonel Elout diminta oleh Van Den Bosch bersiap menyerang Paderi secara besar-besaran. Elout dibantu dengan tambahan senjata dan tentara. Di tahun 1831 dikirimkan 1.500 tentara tambahan untuk persiapan menyerang Paderi.
Jun 1831
Belanda menyerang Batipuh dan Benteng Marapalam.
Nov 1831
Tiku dan Air Bangis diserang Belanda.
1832
Daerah Bukik Kamang, yang merupakan pusat kekuatan Tuanku Nan Renceh, diserang Belanda yang berlanjut ke Nagari Pauh. Seluruh daerah Agam pun dapat dikuasai.
1832
Diperkirakan di tahun ini Tuanku Nan Renceh meninggal dunia.
Sep 1832
Belanda memasuki daerah Bonjol.
Jan 1833
Kepimpinan Paderi telah diserahkan pada Tuanku Imam Bonjol. Dengan basis sentra perjuangan di Bonjol.
9 Jul 1833
Serangan terbesar dilakukan Belanda ke Kamang. Belanda menyerang dari empat jurusan.
"

Disusun oleh Irwan Setiawan, diolah dari berbagai sumber. Penyusun menerima masukan dan saran dari pembaca bila ditemukan kekeliruan dan kekurangan dalam tulisan ini.